Jumat, 21 Oktober 2011

83 Tahun Soempah Pemoeda


REFLEKSI HARI SUMPAH PEMUDA
PEMUDA : Antara Masa Lalu dan Hari Ini
“Kami telah kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka” (QS Al Kahfi : 13)
Sejarah telah mengajarkan kepada kita, bahwa semua peristiwa yang terjadi hari ini atau esok hari merupakan perulangan peristiwa masa lalu, yang berubah hanyalah pelakunya. Lebih jauh, semua peristiwa tersebut merupakan silih bergantinya peradaban yang satu oleh peradaban lainnya. Berdasarkan ketentuan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa, setiap peradaban sebagaimana makhluk hidup mempunyai batas umurnya. Al Qur’an menyatakan dalam surat Al A’raf ayat 34 yang artinya “dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun”. Jika batas umur sebuah peradaban berakhir, maka akan datang peradaban lain yang menggantikannya. Demikian yang terjadi secara berulang, sebuah bangsa atau peradaban yang tadinya begitu kokoh kemudian lenyap, dan bangsa atau peradaban lain menjadi penggantinya. Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman dalam  QS Ali Imran : 140, “...dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) ...”.
Setelah kita memahami hakikat perjalanan sebuah bangsa atau peradaban, sebuah pertanyaan yang semestinya terucap dari setiap lisan kita adalah ‘apakah bangsa ini menjadi bangsa yang menggantikan bangsa (peradaban) lain atau justru bangsa ini akan digantikan oleh bangsa (peradaban) lain?’ Jika kita memutar ulang ingatan 18 tahun yang lalu, peta dunia masih menuliskan nama sebuah bangsa yang sangat disegani bahkan menjadi satu dari dua pelaku utama ‘hitam putihnya’ wajah bumi ini. Ya, benar, Uni Soviet. Bangsa ini yang ‘mewakili’ keberadaan Blok Timur sementara Amerika Serikat menjadi ‘pemimpin’ Blok Barat hingga sekarang. Mari kita berkaca pada perjalanan bangsa tersebut. Selama bertahun-tahun, kedua bangsa ini saling menunjukkan kekuatannya. Persaingan dalam semua bidang terjadi dan satu di antara mereka secara bergantian menjadi kampiunnya. Tetapi pada 1992, setelah melalui berbagai peristiwa pengiringnya Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa menentukan bahwa ajal Uni Soviet telah tiba, sehingga tanpa ada penundaan, sejak itu hilanglah nama Uni Soviet Social Republic (USSR) sebagai pesaing utama United States of America (USA). Wajarlah jika Samuel P. Huntington (1997) kemudian mengajukan tesisnya tentang pertanyaan peradaban mana yang akan menjadi pesaing Blok Barat (Amerika) berikutnya?
Seorang ulama Mesir, Hasan Al Banna berkata, “...sebuah peradaban akan meraih kesuksesan manakala memenuhi empat rukun yaitu keyakinan kuat akan kemenangan yang akan dicapai peradabannya, ikhlas dalam berjuang, semangat dalam memperjuangkannya, dan siap berkurban dalam kerjanya. Dan sepertinya keempat rukun itu tidak dijumpai kecuali di dalam diri seorang pemuda”. Pernyataan di atas tepat karena sejarah telah menunjukkan hampir di semua peradaban, pemudalah yang paling berperan dalam meninggikan nilai-nilai di dalamnya. Simak kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berikut, ‘mereka yang lain berkata, “kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim” (QS Al Anbiyaa : 60). Atau kisah Nabi Musa ‘alaihis salaam yang diabadikan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa ‘maka tidak beriman kepada Musa melainkan anak-anak muda keturunan dari kaumnya’ (QS Yuunus : 83). Tak lupa kisah yang sudah sangat populer tentang sekumpulan pemuda yang beriman di tengah masyarakat jahiliyyah sehingga mereka mampu melakukan perubahan, yaitu Ash-haabul Kahfi yang diabadikan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa dalam ayatNya, ‘...Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka” (QS Al Kahfi : 13). Termasuk di dalamnya adalah kisah heroisme para pahlawan negeri tercinta ini, mulai Syarikat Islam (1905), Budi Utomo (1908), Tri Koro Dharmo (1914), ungkapan penuh keyakinan Bung Karno sang Proklamator ‘berikan kepadaku 10 pemuda, akan aku guncangkan dunia dengannya’, dan puncaknya adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Berbagai peristiwa di atas menguatkan keyakinan betapa strategis dan pentingnya kedudukan para pemuda sebagai ‘agent of change’. Tetapi perasaan berkedudukan penting saja tidak cukup. Perlu adanya kekuatan yang menopang yaitu keyakinan, ikhlas, semangat yang menggelora, dan siap berkorban dalam kerjanya. Keempat hal itu bukan sesuatu yang given, tetapi harus diadakan melalui pembinaan hingga mencapai kepribadian yang memiliki karakter. Di antara ciri pribadi yang berkarakter adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ShallaLlaahu ‘Alaihi Wassalaam, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia”. Walaupun bukan sepenuhnya sebagai pengganti akhlaq mulia, tetapi agaknya lebih mudah ketika akhlaq yang mulia ini dinyatakan dengan kata CARE, baik sebagai kata yang bermakna peduli maupun sebagai akronim dari Commitment, Achievement, Responsibility, dan Enthusiastic. RasulNya ShallaLlaahu ‘Alaihi Wassalaam kembali memotivasi kita dengan sabdanya, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan umat ini, maka dia bukan bagian umat ini”. Kepedulian Dan hal ini tidak mungkin terwujud kecuali melalui pembinaan yang dilakukan harus sistematis, terprogram, dan berkelanjutan. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa  senantiasa membimbing kita ...

Senin, 25 Juli 2011

Raih Piala Ramadhan


8 Tips Meraih Piala Ramadhan
1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma baarik lanaa fii rajab wa sya’ban, wa ballighna ramadhan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)
2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.
3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.
5. Kuatkan azzam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” QS Muhammad : 21
6. Pahami fiqih Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tazkiyyatun-nafs –pembersihan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.
8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam


Disusun Ghuani Darodjatun untuk Kajian di PD Muhammadiyah Kota Tegal