REFLEKSI HARI SUMPAH PEMUDA
PEMUDA : Antara Masa Lalu dan Hari Ini
“Kami telah kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka” (QS Al Kahfi : 13)
Sejarah telah mengajarkan kepada kita, bahwa semua peristiwa yang terjadi hari ini atau esok hari merupakan perulangan peristiwa masa lalu, yang berubah hanyalah pelakunya. Lebih jauh, semua peristiwa tersebut merupakan silih bergantinya peradaban yang satu oleh peradaban lainnya. Berdasarkan ketentuan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa, setiap peradaban sebagaimana makhluk hidup mempunyai batas umurnya. Al Qur’an menyatakan dalam surat Al A’raf ayat 34 yang artinya “dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun”. Jika batas umur sebuah peradaban berakhir, maka akan datang peradaban lain yang menggantikannya. Demikian yang terjadi secara berulang, sebuah bangsa atau peradaban yang tadinya begitu kokoh kemudian lenyap, dan bangsa atau peradaban lain menjadi penggantinya. Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman dalam QS Ali Imran : 140, “...dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) ...”.
Setelah kita memahami hakikat perjalanan sebuah bangsa atau peradaban, sebuah pertanyaan yang semestinya terucap dari setiap lisan kita adalah ‘apakah bangsa ini menjadi bangsa yang menggantikan bangsa (peradaban) lain atau justru bangsa ini akan digantikan oleh bangsa (peradaban) lain?’ Jika kita memutar ulang ingatan 18 tahun yang lalu, peta dunia masih menuliskan nama sebuah bangsa yang sangat disegani bahkan menjadi satu dari dua pelaku utama ‘hitam putihnya’ wajah bumi ini. Ya, benar, Uni Soviet. Bangsa ini yang ‘mewakili’ keberadaan Blok Timur sementara Amerika Serikat menjadi ‘pemimpin’ Blok Barat hingga sekarang. Mari kita berkaca pada perjalanan bangsa tersebut. Selama bertahun-tahun, kedua bangsa ini saling menunjukkan kekuatannya. Persaingan dalam semua bidang terjadi dan satu di antara mereka secara bergantian menjadi kampiunnya. Tetapi pada 1992, setelah melalui berbagai peristiwa pengiringnya Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa menentukan bahwa ajal Uni Soviet telah tiba, sehingga tanpa ada penundaan, sejak itu hilanglah nama Uni Soviet Social Republic (USSR) sebagai pesaing utama United States of America (USA). Wajarlah jika Samuel P. Huntington (1997) kemudian mengajukan tesisnya tentang pertanyaan peradaban mana yang akan menjadi pesaing Blok Barat (Amerika) berikutnya?
Seorang ulama Mesir, Hasan Al Banna berkata, “...sebuah peradaban akan meraih kesuksesan manakala memenuhi empat rukun yaitu keyakinan kuat akan kemenangan yang akan dicapai peradabannya, ikhlas dalam berjuang, semangat dalam memperjuangkannya, dan siap berkurban dalam kerjanya. Dan sepertinya keempat rukun itu tidak dijumpai kecuali di dalam diri seorang pemuda”. Pernyataan di atas tepat karena sejarah telah menunjukkan hampir di semua peradaban, pemudalah yang paling berperan dalam meninggikan nilai-nilai di dalamnya. Simak kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berikut, ‘mereka yang lain berkata, “kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim” (QS Al Anbiyaa : 60). Atau kisah Nabi Musa ‘alaihis salaam yang diabadikan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa ‘maka tidak beriman kepada Musa melainkan anak-anak muda keturunan dari kaumnya’ (QS Yuunus : 83). Tak lupa kisah yang sudah sangat populer tentang sekumpulan pemuda yang beriman di tengah masyarakat jahiliyyah sehingga mereka mampu melakukan perubahan, yaitu Ash-haabul Kahfi yang diabadikan Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa dalam ayatNya, ‘...Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka” (QS Al Kahfi : 13). Termasuk di dalamnya adalah kisah heroisme para pahlawan negeri tercinta ini, mulai Syarikat Islam (1905), Budi Utomo (1908), Tri Koro Dharmo (1914), ungkapan penuh keyakinan Bung Karno sang Proklamator ‘berikan kepadaku 10 pemuda, akan aku guncangkan dunia dengannya’, dan puncaknya adalah peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Berbagai peristiwa di atas menguatkan keyakinan betapa strategis dan pentingnya kedudukan para pemuda sebagai ‘agent of change’. Tetapi perasaan berkedudukan penting saja tidak cukup. Perlu adanya kekuatan yang menopang yaitu keyakinan, ikhlas, semangat yang menggelora, dan siap berkorban dalam kerjanya. Keempat hal itu bukan sesuatu yang given, tetapi harus diadakan melalui pembinaan hingga mencapai kepribadian yang memiliki karakter. Di antara ciri pribadi yang berkarakter adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ShallaLlaahu ‘Alaihi Wassalaam, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia”. Walaupun bukan sepenuhnya sebagai pengganti akhlaq mulia, tetapi agaknya lebih mudah ketika akhlaq yang mulia ini dinyatakan dengan kata CARE, baik sebagai kata yang bermakna peduli maupun sebagai akronim dari Commitment, Achievement, Responsibility, dan Enthusiastic. RasulNya ShallaLlaahu ‘Alaihi Wassalaam kembali memotivasi kita dengan sabdanya, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan umat ini, maka dia bukan bagian umat ini”. Kepedulian Dan hal ini tidak mungkin terwujud kecuali melalui pembinaan yang dilakukan harus sistematis, terprogram, dan berkelanjutan. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa senantiasa membimbing kita ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar